Kamis, 09 Mei 2013




LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN
SISTEMATIKA AVERTEBRATA
Laporan Praktikum Lapangan Ini Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Praktikum Sistematika Avertebrata
Dosen Pengampu : Najda Rifqiyati, M.Si.

 




Disusun Oleh
Kelompok IV
1.      Enggal Rizki Warsaningtyas
2.      Atin Naili Fauziyah
3.      Henik Sri Wahyuni
4.      Ahmad Nazih Mushoffa
5.      Setyo Prabowo
6.      Annisa Afiyati
7.      Ummi Athiah

LABORATORIUM BIOLOGI
PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
                                                                              2012








BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Fauna Indonesia memiliki keanekaragaman yang tinggi karena wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan tropis. Keanekaragaman yang tinggi ini disebabkan oleh Garis Wallace, membagi Indonesia menjadi dua area, yaitu  zona zoogeografi Asia, yang dipengaruhi oleh fauna Asia, dan zona zoogeografi Australasia, dipengaruhi oleh fauna Australia. Pencampuran fauna di Indonesia juga dipengaruhi oleh ekosistem yang beragam di antaranya: pantai, bukit pasir, muara, hutan bakau, dan terumbu karang.
Fauna dibagi menjadi 2, yaitu vertebrata dan avertebrata. Vertebrata merupakan hewan bertulang belakang sedangkan avertebrata dapat didefinisikan sebagai hewan  yang tidak bertulang belakang. Avertebrata atau  invertebrata terdiri dari beberapa filum, yaitu porifera (hewan berpori), coelenterata (hewan berongga ), platyhelminthes (cacing pipih), nemathelminthes (cacing gilik), annelida (cacing berbuku-buku), echinodermata (hewan kulit duri), mollusca (hewan lunak), dan arthropoda (hewan kaki berbuku-buku).
Untuk lebih mengenal dan mengetahui habitat, persebaran, serta keanekaragaman hewan avertebrata di lingkungan sekitar, maka dilakukanlah observasi lapangan hewan avertebrata. Observasi lapangan tersebut selain untuk lebih mengenal keanekaragaman avertebrata juga  bertujuan untuk memudahkan mahasiswa (praktikan) dalam mengenal berbagai macam bentuk keanekaragaman hewan avertebrata yang berada di darat maupun di laut, dan menentukan kedudukannya dalam klasifikasi.

B.     Tujuan
1.        Mengamati objek yang termasuk dalam filum Coelenterata, Annelida, Molusca, Echinodermata dan Arthropoda
2.        Mengenal objek dalam filum Coelenterata, Annelida, Molusca, Echinodermata dan Arthropoda
3.        Mengidentifikasi objek dalam filum Coelenterata, Annelida, Molusca, Echinodermata dan Arthropoda

C.      Manfaat
1.        Mengetahui keanekaragaman spesies avertebrata di Pantai Sundak dan Hutan Wanagama;
2.        Menambah pemahaman tentang hewan-hewan yang termasuk ke dalam hewan avertebrata;
3.        Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT;
4.        Menambah rasa syukur terhadap ciptaan Allah SWT;
5.        Mempererat rasa persaudaraan antar dosen, asisten, mahasiswa biologi dan pendidikan biologi.


BAB II
DASAR TEORI

A.    Lokasi
1.      Pantai Sundak
a.       Secara Geografis dan Astronomis
Pantai Sundak terletak di Desa Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia. Menurut titik Koordinat GPS terletak pada: S8°8'47.8" E110°36'27.3"
b.      Sejarah
Pantai Sundak tak hanya memiliki pemandangan alam yang mengasyikkan, tetapi juga menyimpan cerita. Nama Sundak ternyata mengalami evolusi yang bukti-buktinya bisa dilacak secara geologis.
Perubahan nama berlangsung beberapa puluh tahun kemudian. Sekitar tahun 1976, ada sebuah kejadian menarik. Suatu siang, seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang bertemu dengan seekor landak laut. Karena lapar, si anjing bermaksud memakan landak laut itu tetapi si landak menghindar. Terjadilah sebuah perkelahian yang akhirnya dimenangkan si anjing dengan berhasil memakan setengah tubuh landak laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan si anjing diketahui pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah menjadi Sundak, singkatan dari asu (anjing) dan landak.
Tak dinyana, perkelahian itu membawa berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Awalnya, si pemilik anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesanya, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak. Setelah mencoba menyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut benar. Jadilah kini, air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gua, kini dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air laut. Dari sinilah nama Sundak lahir dan sampai sekarang nama tersebut masih menjadi nama lokasi yang terletak di Desa Sidoharjo, Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta.
c.       Kondisi Pantai Sundak
Adapun kondisi di Pantai Sundak mulai dari gerbang masuk dipenuhi oleh penjual yang berdagang. Masuk ke arah pantai kita akan disajikan pasir putih yang bersih bercampur dengan rangka kerang.
Mengenai substrat dari Pantai Sundak berkarang dengan dipenuhi banyak algae dari bibir pantai. Dari substrat pantai yang demikian secara logika akan ditemukan banyak hewan baik avertebrata atau pun vertebrata. Selain itu di sana juga terdapat batu karang besar yang digunakan sebagai habitat dari hewan avertebrata. Seperti Chiton sp yang kebanyakan menempel di batu karang tersebut.
2.        Hutan Wanagama
a.    Secara Geografis dan Astronomis
Secara geografis Hutan Wanagama terletak di empat desa, yaitu Desa Kemuning, Ngleri, Gading maupun Banaran, Kecamatan Patuk/Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasi Hutan Wanagama terletak di empat desa di Kecamatan Patuk dan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Bila diukur dari pusat Kota Yogyakarta, Hutan Wanagama berjarak sekitar 35 km ke arah selatan.
Akses ke Hutan Wanagama dapat menggunakan kendaraan umum dari terminal bus Giwangan Yogyakarta dengan mengambil jurusan Wonosari. Dengan trayek ini, pengunjung turun di Desa Gading. Pada pertigaan Desa Gading, ambil arah kanan untuk menuju ke Wanagama. Perjalanan dari Gading ke Hutan Wanagama, dilakukan dengan berjalan kaki (kecuali membawa kendaraan sendiri) karena kendaraan umum yang menuju ke lokasi ini belum ada. Bila pengunjung ingin mencoba, di pertigaan Gading tersedia ojek yang siap mengantar sampai tujuan.
Secara astronomis Hutan Wanagama sendiri menurut koordinat GPS, yaitu pada -7° 50' 53.00", +110° 29' 0.18" .
b.      Sejarah (awal pembentukan Hutan Wanagama)
Hutan Wanagama merupakan sebuah kawasan hutan lindung seluas 600 hektar di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Tujuan utama dibangunnya kawasan Wanagama adalah untuk mencari model cara menanggulangi kekritisan tanah di Gunungkidul. Di samping itu, hutan ini juga difungsikan sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang gersang dan tandus. Nama Wanagama berasal dari dua kata, yakni wana yang berarti alas atau hutan, dan gama yang merupakan kependekkan dari Gadjah Mada. Hutan yang ikut serta berperan menghijaukan Gunungkidul ini, mulai dirintis pada tahun 1964 oleh Prof. Oemi Hani’in Suseno, salah satu akademisi kampus UGM. Dengan bermodal uang pribadi, guru besar peraih anugerah Kalpataru tersebut, menanami berbagai pohon di Wanagama yang pada saat itu hanya seluas 10 hektar. Mulanya, bersama seorang warga setempat, Wagiran, Prof. Oemi menanam dan merawat beberapa Pohon Murbei (Morus alba). Tanaman ini dipilih karena daunnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ulat sutera dan tidak mudah rontok.
Kemudian secara bertahap masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program itu. Mereka diberi pekerjaan untuk memetik daun murbei yang kemudian dibeli oleh pihak pengelola hutan seharga 1 ringgit (Rp 2,50) per kg. Daun tersebut digunakan sebagai pakan budidaya ulat sutera. Dari hasil penjualan kepompong itulah, modal pengembangan diperoleh. Usaha tersebut membuahkan hasil dan mendapat perhatian dari Direktorat Kehutanan, sebagai pemilik lahan. Lahan penghijauan pun diperluas menjadi 79,9 hektar. Dari waktu ke waktu, target lahan penghijauan terus diperluas dan kini luasnya mencapai 600 hektar yang terbagi dalam 9 petak.
Selain penanaman Pohon Murbei, upaya penghijauan juga dilakukan dengan teori pembelukaran. Prof. Oemi dan tim juga melakukan upaya penanaman jenis tanaman pionir sebanyak mungkin, yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro. Tanaman pionir yang didominasi jenis legum tersebut dipahami memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Di samping itu, kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.
Selain itu, ada sekitar 30 jenis burung yang menghuni Wanagama. Burung-burung ini menjadi perhatian tersendiri ketika menjadi mediator bagi penyebaran tunas-tunas cendana. Selain Pohon Murbei, Pohon Cendana juga dipilih dalam program penghijauan Wanagama. Namun, berhubung kondisi tanah di Kabupaten Gunungkidul kurang mendukung, pohon-pohon cendana yang ditanam banyak yang mati. Menurut penuturan pengelola, yang tersisa waktu itu hanya sekitar 10 pohon. Beberapa tahun kemudian, Prof. Oemi dikejutkan dengan munculnya tunas-tunas cendana baru yang tersebar tak merata. Ketika diteliti, semua itu hasil kerja burung-burung yang memakan biji-biji cendana dan membuangnya sembarangan ketika buang kotoran.
Hutan Wanagama, sebuah kawasan yang merupakan cerminan kepedulian kepada alam, potensi wisata, dan penunjang ekonomi masyarakat sekitar. Penghijauan dengan konsep pembelukaran di Hutan Wanagama ini telah diadopsi dan menjadi rujukan penghijauan bagi daerah tandus lainnya dan juga sebagai hutan pendidikan. Fakultas Kehutanan UGM sebagai pengelola Hutan Wanagama, saat ini sedang menata ulang kawasan hutan seluas 600 hektar ini agar lebih menarik sebagai obyek wisata.
c.    Kondisi Hutan Wanagama
Hutan Wanagama termasuk hutan heterogen karena di sana terdapat banyak macam tanaman baik itu berhabitus herba, semak, perdu, dan pohon. Kondisi tanah di Wanagama mengandung banyak humus, karena di sana terdapat banyak daun yang rontok yang dapat menambah humus pada tanah.
Permukaan Hutan Wanagama berbatu kapur dengan banyak lumut yang menempel di permukaan batuan tersebut. Kanopi yang ditimbulkan oleh rindangnya pohon-pohon besar di Wanagama membuat udara sejuk, sehingga dari keadaan yang demikian banyak spesies yang tinggal dan berkembang biak di daerah Hutan Wanagama tersebut. Hasilnya banyak ditemukan keanekaragaman hewan khususnya yang tergolng Invertebrata.
B.     Deskripsi Hewan Invertebrata
Hewan Invertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata. Setiap jasad hidup di laut atau yang hidup dimana saja atau setiap benda yang ada, setiap manusia mulai mengembangkan bahasa, setiap hewan laut maupun tumbuh-tumbuhan mempunyai nama ilmiah yang berbeda, nama ilmiah yang sama berlaku bagi semua jasad hidup yang mempunyai sejumlah sifat yang sama. Salah satu upaya untuk memberikan nama hewan dan mengelompokkan hewan dilakukan oleh Aristotles (384-322 SM), yakni seorang filosof dan ilmuwan yunani, ia mengelompokkan hewan-hewan kedalam kelompok yang mempunyai darah dan tidak mempunyai darah, sayangnya dia tidak mengenal darah jika warnanya tidak merah, sedangkan banyak tipe darah yang tidak mempunyai pigmen warna merah atau berwarna bening. Baru pada abad ke 18 pengelompokan yang tepat dilakukan dengan menggunakan sistem penamaan yang dirancang oleh Caroleus Linnaeus (1707-1778), seorang naturalis Swedia sistem ini diperbaiki ketika Lamarck (1774-1829), nama lengkapnya Jean Baptise Piere Antoine Monet Lamarck, seorang naturalis perancis dan mulai membeda-bedakan bentuk-bentuk kehidupan menurut rancangan dasar dari organisasi jaringan dalam tubuh mereka, prinsip ini mulai suatu sistem penentu atau pembedaan satu tipe dari tipe yang lain sampai sekarang masih digunakan. (Romimohtarto, 2007).
Pada dasarnya jasad hidup yang mempunyai anatomi dean fisiologi yang serupa ditempatkan dalam satu kelompok kemudian tipe-tipe dalam kelompok yang mempunyai sifat yang sama ditempatkan dalam satu sub (anak)-kelompok dan seterusnya sampai kita mempunyai anak kelompok terakhir yang dapat dibedakan atas dasar sifat yang khas. Tingkat anak-kelompok yang terkecil ini dinamakan jenis (spesiaes). Jenis pada umumnya adalah sebuah kelompok atau populasi yang mampu melakukan perkembang biakan antar mereka. pada beberapa jenis, sifat –sifat yang khas yang lebih khusus lagi membagi-bagi jenis dalam anak-jenis (subspecies) atau ras (race), tetapi pada umumnya pembagian jasad hidup terkecil adalah jenis, pengelompokan diatas jenis adalah marga (genus). Marga ditulis dengan awalan huruf besar dan digaris bawahi atau dicetak miring. Nama jenis tidak didahului huruf besar tetapi juga digaris bawahi atau dicetak miring. Contohnya Cheilinius undulates (ikan Napoleon). Cheilinius nama marga dan undulates nama jenis, sistem ini pada prinsipnya sederhana tetapi menjadi rumit karena adanya pemberi benda yang diberi nama menurut ketentuan-ketentuan lain yang berlaku, ilmu tentang penamaan ini disebut Nomenklatur dan merupakan bagian dari taksonomi yaitu ilmu tentang klasifikasi dan identifikasi. (Romimohtarto, 2007).
Hewan dan tumbuhan baik di darat, air tawar, air laut dapat dibedakan satu dengan yang lainnya menurut klasifikasi ilmiah, mereka dinamai dan di kelompok-kelompokan menurut klasifikasi tersebut. Apa yang dinamakan biological nomenclature ( sistem kalsifikasi biologi) bermula pada abad ke- 18 ketika Linneaeus menggunakan cara untuk mengklasifikasikan semua biota dan menjadi terkenal dengan nama sistem nomenklatur Linneaus, sistem ini berdasarkan pada kesamaan morfologi dengan urutan kategori menurut hirarki. Mulai dari kelompok besar sampai kepada yang terkecil. ( Romimohtarto, 2007).
Filum Porifera (Latin: porus=pori, fer=membawa), tubuhnya berpori, dipoblastik, simetri radial, tersusun atas sel-sel yang bekerja secara mandiri (belum ada koordinasi antar sel yang satu dengan sel lainnya). Fase dewasa bersifat sesil (menetap pada suatu tempat tanpa mengadakan perpindahan), dan berkoloni. Habitat umumnya air laut dan ada yang di air tawar (famili spongilidae). Bentuk tubuh : kipas. Warna tubuh : kuning, kelau, merah, biru, hitam, putih keruh, coklat, jingga ( sering berubah tergantung tempat sinar). Mempunyai rongga sentral (spongocoel). Merupakan hewan mutiseluler yang paling sederhana. Porifra hidup secara heterotrof. Mkanannya adalah bakteri dan plankton. Makananm yag masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga ;porifera tersebut juga sebagai pemakan cairan.
            Tubuhnya diploblastik, tersusun atas:
1.      Lapisan luar (epidermis=epithelium dermal). Terdiri atas pinakosit=pinako-derma (berbentuk sel-sel polygonal yang mertapat)
2.      Lapisan dalam, terdiri atas jajaran sel berleher (koanosit) sel koanosit berfungsi sebagai organ respirasi mengatur pergerakan air. Diantara lapisan luar dan lapisan dalam terdapat mesophyl (mesoglea). Di dalam mesoglea terdapat organel-organel, yaitu:
Gelatin protein matrik, amubosit,arkeosit,porosit/miosit, skleroblast dan spikula.
Porifera bersifat holozoik dan sporozoik. Partikel-partikel makanan menempel pada kolar. Mikrovil-mikrovil diolah di dalam vakuola makanan dengan bantuan enzym pencernaan (karbohidrase, protase dan lipase). Vakuola tersebut kemudian melakukan gerakan siklosis . setelah itu zat makanan akan diedarkan ke sel-sel tubuh secara difusi dan osmosis oleh amubosit. Alat pernafasan terdiri atas sel-sel pinakosit (bagian luar) dan sel koanosit (bagian dalam), zat sisa metabolisme diedarkan dari internal tubuhnya oleh amubosit. Porifera ada yang bersifat monosious (hermafrodit) dan ada juga yang bersifat diosious. Berkembangbiak secara seksual dan aseksual.(Rusyana,2011)
Coelenterata adalah hewan yang tidak mempunyai rongga sebenarnya (acoelomata), yang dimiliki sebuah rongga sentral yang disebut coelenteron. Filum Coelenterata terdiri atas empat kelas. Tiga kelas mempunyai knidoblast, dimasukkan ke dalam kelompok Cnidaria (terdiri dari kelas hydrozoa, scypozoa, dan kelas anthozoa), satu kelas lagi tidak memiliki knidoblast dan disebut acnidaria (kelas ctenophora). Struktur tubuh diploblastik, tidak mempunyai kepala, anus, alat peredaran darah, alat ekskresi, dan alat respirasi. Punya mulut yang dikelilingi tentakel. Bersel banyak, simetri radial. Belum mempunyai pusat susunan saraf, sistem pencernaan makanandilakukan secara intrasel dan ekstrasel. Hidupnya bersifat polymorphysme atau metagenesis, terdiri atas bentuk polip dan medusa (Rusyana,2011).
Filum Platyhelminthes bersifat triploblastik,, tetapi tidak bersoelom. Ruang digesti berupa ruang gastrovaskuler yang tidak lengkap. Bentuk tubuh simetrio bilateral, , namun memiliki sistem ekstretorius, saraf, dan reproduksi yang mantap. Seup parasitis pada manusia dan hewan. Cacing-cacing planaria hidup dalam air tawar. Cacing hati dan cacing pita bersiklus hidup majemuk dan menyangkut beberapa inang sementara. Adapun kelasnya yaitu Turbellaria, Trematoda, dan Cestoda. (Brotowidjoyo, 1994).
Filum Nemathelminthes tubuhnya  berbentuk gilig atau seperti benang. Sebagian besar hidup mandiri, diantaranya hidup parasit dalam tanah dan merusak akar tanaman, atau dalam saluran pencernaan vertebrata, atau dalam jaringan tubuh lainnya. Cacing ini permukaan tubuhnya tertutup kutikula, dan biasanya kedua ujung tubuhnya meruncing. Pseudosoel menyerupai selom yang sebenarnya , tetapi dilapisi hanya dengan mesoderm di sisi luar.Salah satu kelasnya yaitu Nematoda, contohnya yaitu Ascaris lumbricoides. (Brotowidjoyo, 1994).
Filum Annelida merupakan jenis cacing yang bersegmen, artinya tubuhnya terdiri atas satuan yang berulang-ulang. Meskipun beberapa struktur seperti saluran pencernaan terdapat di sepanjang tubuh cacing tersebut, tetapi yang lain seperti organ ekskresi terulang pada segmen demi segmen. Dari luar segmentasi ini tampak seperti rangkaian cincin. Ciri-ciri khas lain annelida adalah simetri bilateral. Selain itu ciri pada annelida yang tidak terdapat pada hewan lain yang lebih primitif adalah rongga tubuh yang besar berisi cairan. Rongga ini disebut selom, seluruhnya dilapisi mesoderm. Pada filum annelida telah ditemukan 8900 spesies yang dibagi menjadi tiga kelas. Kelas yang terbesar adalah Polychaeta yang terdiri atas cacing palolo. Kelas kedua adalah Oligochaeta yang etrmasuk di dalamnya adalah cacing tanah dan beberapa cacing air tawar. Kelas ketiga, Hirudinea terdiri atas lintah. (Kimball, 1983)
Filum Mollusca atau hewan lunak merupakan hewan yang betubuh lunak, tidak bersegmen (kecuali satu), banyak diantaranya dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur. Sebagian besar mollusca hidup di laut dan beberapa di darat. Filum ini terbagi menjadi beberapa kelas dan anak kelas, yaitu:
1.        Kelas Bivalvia : memiliki dua cangkang yang menyelubungi tubuhnya;
2.        Kelas Gastropoda : meliputi keluarga keong dan kerabatnya siput telanjang. Bergerak dengan kaki perut;
3.        Kelas Chepalopoda: bergerak dengan mendorong kepalanya menggunakan kaki (alat gerak) yang termodifikasi menjadi tentakel yang biasanya memiliki alat penghisap; (Castro, 2005)
4.        Kelas Schapoda: "siput gigi" yang merupakan kelas kecil mollusca yang menghabiskan hidupnya terbenam di pasir;
5.        Kelas Polyplacopora: cangkangnya terdiri atas beberapa (biasanya delapan) lempeng terpisah yang timpang tidih. Contoh organismenya adalah Chiton sp;
6.        kelas Monoplacopora: secara internal bersegmen yang sama seperti annelida, contohnya adalah Neopilina sp.(Kimball, 2005).
Filum Echinodermata merupakan hewan yang hidup di laut, kebanyakan bersifat simetri radial. Tubuhnya dengan 5 buah antimer yang tersusun radial, dengan mulut di tengah-tengahnya. Pada kulit terdapat papan-papan kapur dan sebagian besar mempunyai duri-duri dermal. Hewan-hewan ini berselom. Sistem digesti lengkap, walaupun anus mungkin tidak berfungsi. Bergerak lambat dengan telapak tabung. Gerakannya diatur oleh sistem tekanan hidroststis yang disebut sisten vascular air. Pada hewan ini tidak terdapat sistem respirasi dan eksresi secara khusus. Fungsi eksresi dilakukan oleh penonjolan-penonjolan kulit yang disebut brank atau papula yang terdapat diantara papan-papan kapur pada kulit. Kelamin terpisah dan fertilisasi terjadi dalam air. Larvanya bersimetri bilateral. (Brotowidjoyo, 1994)
Filum Arthropoda merupakan hewan yang kakinya bersegmen-segmen, tubuhnya simetris bilateral yang juga biasanya terdiri dari sederetan segmen. Pada setiap segmen atau beberapa segmen terdapat sepasang appendage atau embelan (bagian tubuh yang menonjol dan mempunyai ujung bebas misalnya anggota tubuh). Terdapat rangka luar dari kitin yang fleksibel untuk memudahkan pergerakan bagian segmen tubuhnya. Sistem syaraf mirip dengan sistem syaraf yang dimiliki Annelida. Selain sistem syaraf banyak hal-hal lain yang mempunyai sifat-sifat sama dengan Annelida, misalnya materi anggota gerak, alat ekskresi dan sebagainya sehingga dianggap filum ini berkerabat dengan filum Annelida. Umumnya, Arthropoda memiliki mata majemuk, suatu tipe organ penglihatan yang berbeda dengan invertebrata atau avertebrata lainnya. Kelas pada filum ini yaitu Crustacea, Onychophora, Arachnoldea, Ohilopoda, Diplopoda, dan Insecta.  Tetapi terkadang kelas Chilopoda dan Diplopoda dimasukkan kedalam satu kelas yaitu Myriapoda. (Rusyana, 2011).


















BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Metode Penelitian
Pada praktikum kali ini metode penelitian atau pengamatan menggunakan sistem plot 4x4 m2. Dimana lokasi yang dijadikan objek penilitian dibatasi dengan tali rafiah yang sebelumnya diukur 4 meteran, setelah itu tali rafiah tadi dikaitkan dengan patok yang terbuat dari bambu sehingga ketika direntangkan tali rafiah tersebut dapat membentuk kotakan persegi dan patok tadi ditancapkan di permukaan tanah.
Setelah kotakan tadi terbentuk, pengamatan terhadap objek (avertebrata) dapat dilakukan dengan mengamati daerah yang sudah dibatasi dengan tali rafiah tadi. Kemudian objek yang dicari dalam golongan avertebrata dicatat dan difoto.

B.       Tempat dan Waktu
Obervasi dilakukan pada hari Minggu, tanggal 09 Desember 2012 yang bertempat di Pantai Sundak (07.00) dan Hutan Wanagama (12.45-14.30) daerah Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

C.    Alat dan Bahan
Dalam praktikum kali ini alat yang digunakan adalah sarung tangan, pinset, ember, gunting, rafia, jaring, patok, toples, dan kamera. Adapun bahan yang digunakan adalah formalin dan alkohol.
BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi dan Klasifikasi
1.    Phylum Coelenterata
a.    Meandrina sp
Klasifikasi
 
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Coelenterata
Class                : Anthozoa
Ordo                : Madreporaria
Famili              : Meandrinidae
Genus              : Meandrina
Spesies            : Meandrina  sp
                                                                                                (Linnaeus, 1758).
Deskripsi:
Sebuah karang bentuknya seperti otak, membentuk belahan yang dapat mencapai 1 m diameternya. Beberapa koloni kolumnar, dengan ketinggian 3 atau 4 kali lebar mereka. Septum besar, tebal,  biasanya  ukuran sama. Warna biasanya krem,  kehijauan dan coklat. Tentacles dapat terlihat di siang hari  (P.S Verma, 2002).
a.    Favites sp
Klasifikasi 
                                                        
                                                         Kingdom   : Animalia
Phylum      : Cnidaria
Kelas          : Anthozoa
Ordo           : Sceleretina
Family        : Faviidae
Genus         : Favites
Spesies       : Favites sp
   (Linnaeus, 1758)
Deskripsi :
 Mempunyai ekskeleton kompak badan berbahan kapur. Hidupnya berkoloni, biasanya terdapat dalam air laut hangat, tapi tidak menutup kemungkinan hidup di daerah  pinggir pantai atau laut (P.S Verma, 2002).
1.    Phylum Annelida
a.     Pheretima sp (Cacing Tanah)
 
Klasifikasi
Kingdom  : Animalia
Phylum      : Annelida
Class          : Clitellata
Ordo          : Haplotaxida
Famili       : Megascolecidae
Genus       : Pheretima
Spesies               : Pheretima sp
   Deskripsi :
Cacing tanah bertubuh tanpa kerangka, diselaputi oleh epidermis berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan seta, kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut), bersifat hemaphrodit (berkelamin ganda). Apabila dewasa, bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelium (tabung peranakan atau rahim). Tubuh dibedakan atas bagian anterior dan posterior. Pada bagian anteriornya terdapat mulut, prostomium dan beberapa segmen yang agak menebal membentuk klitelium, Cacing tanah umumnya memakan serasah daun (Edwards dan Lofty, 1977; Hanafiah, dkk. 2003). Cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang mengandung coelomycetes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan sistem vaskuler tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior, kotoran dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kutikuler (Hanafiah, dkk.2003).

b.    Nereis virens
 
Klasifikasi :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Annelida
Kelas               : Polychaeta
Ordo                : Eurentia
Famili              : Nereidae
Genus              : Nereis
Spesies            : Nereis virens    
(Sars, 1835)
Deskripsi :
Tubuh memanjang, dapat lebih dari 30 cm, silindris dan bersegmen. Hidup dalam pasir atau menggali di bebatuan di daerah pasang surut, aktif pada malam hari. Tiap segmen memiliki porapodium. Kepala jelas dengan paring berahang dikelilingi peristomium dan dan beratap yang disebut prostomium (Solomon, 1993).

2.    Phylum Mollusca
a.    Anadara sp.
 
Klasifikasi
Kingdom                     :  Animalia
Filum                           : Molussca
Class                            : Bivalvia
Ordo                            : Arcoida
Family             : Arcidae
Genus                          : Anadara
Species                        : Anadara sp
www.eol.org
Deskripsi :
Cangkang terdiri dari dua bagian, kedua cangkang tersebut disatukan oleh suatu sendi elastis yang disebut hinge ( terletak di permukaan dorsal ). Bagian dari cangkang yang membesar atau menggelembung dekat sendi disebut umbo (bagian cangkang  yang umurnya paling tua). Disekitar umbo terdapat garis konsentris yang menunjukkan garis interval pertumbuhan. Sel epithel bagian luar dari mantel menghasilkan zat pembuat cangkang. Cangkang itu sendiri terdiri dari tiga lapisan yaitu periostrakum ( lapisan tipis paling luar ), prismatik ( lapisan bagian tengah yang terbuat dari kristal-kristal kapur), dan nakreas (bagian dalam yang terbuat dari kristal-kristal kalsium karbonat dan mengeluarkan bermacam-macam warna jika terkena cahaya). Terdapat ligamen sebagai engsel membuka menutup cangkang. Tumbuh sampai mencapai kira-kira 2,5 inchi. Warna cangkang putih hingga abu-abu dengan alur yang jelas. Terdapat 26-28 alur-alur radial yang melintang. Cangkang ditutupi periostracum abu-abu tipis. Arah sutur vertikal. Cangkang terdiri dari tiga lapisan yaitu periostrakum, prismatik, dan nakreas. Habitat di pantai. Bergerak dengan kaki otot yang berbentuk seperti kapak (Rusyana. 2011).

b.    Conus sp
Klasifikasi
Kingdom                    : Animalia
Filum                           : Molussca
Class                            : Gastropoda
Ordo                            : Sorbeoconca
Sub ordo                     : Neogastropoda
Family            : Conidae
Genus                          : Conus
Species                           : Conus sp                                                                                                                      www.eol.org


Deskripsi :
Habitat di laut. Arah alur putar cangkang dexter. Conus memilki cangkang dengan panjang 10-13 cm. Umumnya memiliki sisi yang lurus dengan spire yang pendek dan body whorl yang meruncing. Memiliki aperture yang dalam atau membuka pada body whorl pertama. Hewan ini memangsa cacing dan Molusca lain atau terkadang ikan kecil. Sebagian besar spesies indigenous di wilayah basin Indo-Pasific (Rusyana. 2011).

c.    Anadonta sp
Description: 14135_580_360.jpgKlasifikasi :
Kingdom                     :  Animalia
Filum               : Molussca
Class                : Bivalvia
Ordo                : Unionoida
Super family    : Unionidae
Family             : Anodontinae
Genus                          : Anodonta
Species                        : Anodonta sp                                                                                                                              www.eol.org
Deskripsi : 
Cangkang terdiri dari dua bagian, kedua cangkang tersebut disatukan oleh suatu sendi elastis yang disebut hinge ( terletak di permukaan dorsal ). Bagian dari cangkang yang membesar atau menggelembung dekat sendi disebut umbo (bagian cangkang  yang umurnya paling tua). Disekitar umbo terdapat garis konsentris yang menunjukkan garis interval pertumbuhan. Sel epithel bagian luar dari mantel menghasilkan zat pembuat cangkang. Cangkang itu sendiri terdiri dari tiga lapisan yaitu periostrakum ( lapisan tipis paling luar ), prismatik ( lapisan bagian tengah yang terbuat dari kristal-kristal kapur), dan nakreas (bagian dalam yang terbuat dari kristal-kristal kalsium karbonat dan mengeluarkan bermacam-macam warna jika terkena cahaya). Arah sutur horizontal. Terdapat ligamen sebagai engsel membuka menutup cangkang ( Rusyana. 2011.)

d.   Achatina fulica ( Bekicot )
Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Mollusca
Class          : Gastropoda
Ordo                : Stylommatophora
Famili        : Achatinidae
Genus        : Achatina
Spesies            : Achatina fulica
 (www.texasinvasives.org)


Deskripsi :
Achatina fulica mempunyai cangkang yang tidak begitu mencolok dan bentuk cangkang cenderung meruncing (Santoso,1989). Tidak memiliki operkulum, memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian  ventral tubuhnya, serta bergerak lambat menggunakan kakinya. Bagian-bagian morfologi bekicot meliputi tentakel dorsal, mata, kepala, tentakel, kaki perut, sutura, apex dan ada yang mempunyai garis pertumbuhan pada cangkangnya (Oemarjati, 1991). Bekicot merupakan hewan malam karena semua kegiatannya dilakukan pada malam hari, kecuali bila mereka berada pada tempat gelap dan teduh. Biasanya pada siang hari bekicot selalu menyembunyikan dirinya di dalam cangkangnya untuk istirahat atau tidur (Asa, 1989).

e.    Description: DSC05879.JPGCypraea sp
Klasifikasi
Kingdom                     : Animalia
Phylum                        : Mollusca
Kelas                           : Gastropoda
Ordo                            : Meogastropoda
Famili                          : Cypraeidae
Genus                          : Cypraea
Spesies                : Cypraea sp      (Linnaeus, 1758)
Deskripsi :
Hidup di laut dengan permukaan cangkang yang mengkilap dan halus, kecuali beberapa spesies dan memiliki warna yang banyak. Panjang kira-kira 5-15. Bentuk cangkang seperti telur dengan aparture memenjang dan sempit. Memiliki gigi radula  (Sugiarti, 2005).

f.     Chiton sp.
Description: DSC05893.JPGKlasifikasi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Mollusca
Classis : Polyplacophora
Ordo                : Chitonida
Family : Chitonidae
Genus
            : Chiton
Species
            : Chiton sp
Deskripsi :
   Hewan ini merupakan anggota dari kelas Polyplacophora karena mempunyai banyak pelat  (kepingan). Cangkangnya berbentuk lempengan ( keping ) terpisah yang berjumlah 7 - 8 buah, yang umumnya tersusun secara tumpang tindih seperti genting dan pada tepinya dikelilingi sabuk. Bentuk tubuhnya oval, cangkangnya berwarna hitam atau coklat. Tekstur cangkangnya agak keras, habitatnya di perairan laut ( Rusyana. 2011.)
 

 



 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar