LAPORAN
PRAKTIKUM LAPANGAN
SISTEMATIKA AVERTEBRATA
SISTEMATIKA AVERTEBRATA
Laporan Praktikum Lapangan Ini Disusun
Guna Memenuhi Mata Kuliah Praktikum Sistematika Avertebrata
Dosen Pengampu : Najda Rifqiyati, M.Si.
Disusun Oleh
Kelompok IV
1.
Enggal
Rizki Warsaningtyas
2.
Atin Naili
Fauziyah
3.
Henik Sri
Wahyuni
4.
Ahmad
Nazih Mushoffa
5.
Setyo
Prabowo
6.
Annisa
Afiyati
7.
Ummi
Athiah
LABORATORIUM
BIOLOGI
PRODI
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN
SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Fauna Indonesia memiliki
keanekaragaman yang tinggi karena wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan tropis. Keanekaragaman yang tinggi ini
disebabkan oleh Garis
Wallace, membagi Indonesia
menjadi dua area, yaitu zona zoogeografi
Asia, yang dipengaruhi oleh fauna Asia, dan
zona zoogeografi Australasia, dipengaruhi oleh fauna Australia. Pencampuran
fauna di Indonesia juga dipengaruhi oleh ekosistem yang beragam di antaranya: pantai, bukit pasir, muara, hutan bakau, dan terumbu karang.
Fauna dibagi menjadi 2,
yaitu vertebrata dan avertebrata. Vertebrata merupakan hewan bertulang belakang
sedangkan avertebrata dapat didefinisikan sebagai hewan yang tidak bertulang belakang. Avertebrata
atau invertebrata terdiri dari beberapa
filum, yaitu porifera (hewan berpori), coelenterata (hewan berongga ),
platyhelminthes (cacing pipih), nemathelminthes (cacing gilik), annelida
(cacing berbuku-buku), echinodermata (hewan kulit duri), mollusca (hewan
lunak), dan arthropoda (hewan kaki berbuku-buku).
Untuk lebih mengenal dan
mengetahui habitat, persebaran, serta keanekaragaman hewan avertebrata di
lingkungan sekitar, maka dilakukanlah observasi lapangan hewan avertebrata.
Observasi lapangan tersebut selain untuk lebih mengenal keanekaragaman
avertebrata juga bertujuan untuk memudahkan mahasiswa (praktikan) dalam mengenal berbagai macam
bentuk keanekaragaman hewan avertebrata yang berada di darat maupun di laut,
dan menentukan kedudukannya dalam klasifikasi.
B. Tujuan
1.
Mengamati objek yang termasuk
dalam filum Coelenterata, Annelida, Molusca, Echinodermata dan Arthropoda
2.
Mengenal objek dalam filum
Coelenterata, Annelida, Molusca, Echinodermata dan Arthropoda
3.
Mengidentifikasi objek dalam filum
Coelenterata, Annelida, Molusca, Echinodermata dan Arthropoda
C. Manfaat
1.
Mengetahui keanekaragaman spesies
avertebrata di Pantai Sundak dan Hutan Wanagama;
2.
Menambah pemahaman tentang
hewan-hewan yang termasuk ke dalam hewan avertebrata;
3.
Menambah keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah SWT;
4.
Menambah rasa syukur terhadap
ciptaan Allah SWT;
5.
Mempererat rasa persaudaraan antar
dosen, asisten, mahasiswa biologi dan pendidikan biologi.
BAB II
DASAR TEORI
A. Lokasi
1.
Pantai Sundak
a.
Secara Geografis dan Astronomis
Pantai
Sundak terletak di Desa Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul,
Yogyakarta, Indonesia. Menurut titik Koordinat
GPS terletak pada: S8°8'47.8" E110°36'27.3"
b.
Sejarah
Pantai Sundak tak hanya memiliki
pemandangan alam yang mengasyikkan, tetapi juga menyimpan cerita. Nama Sundak
ternyata mengalami evolusi yang bukti-buktinya bisa dilacak secara geologis.
Perubahan nama berlangsung beberapa puluh
tahun kemudian. Sekitar tahun 1976, ada sebuah kejadian menarik. Suatu siang,
seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang bertemu
dengan seekor landak laut. Karena lapar, si anjing bermaksud memakan landak
laut itu tetapi si landak menghindar. Terjadilah sebuah perkelahian yang
akhirnya dimenangkan si anjing dengan berhasil memakan setengah tubuh landak
laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan si anjing diketahui
pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di
mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh
landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah menjadi
Sundak, singkatan dari asu (anjing) dan landak.
Tak dinyana, perkelahian itu membawa
berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air,
akhirnya penduduk menemukan mata air. Awalnya, si pemilik anjing heran karena
anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesanya, di gua tersebut terdapat
air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak. Setelah mencoba
menyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut benar. Jadilah
kini, air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam
gua, kini dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air
ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya
tergenang air laut. Dari sinilah nama Sundak lahir dan sampai sekarang nama
tersebut masih menjadi nama lokasi yang terletak di Desa Sidoharjo, Tepus, Gunung
Kidul, Yogyakarta.
c.
Kondisi Pantai Sundak
Adapun kondisi di Pantai Sundak mulai dari
gerbang masuk dipenuhi oleh penjual yang berdagang. Masuk ke arah pantai kita
akan disajikan pasir putih yang bersih bercampur dengan rangka kerang.
Mengenai substrat dari Pantai Sundak
berkarang dengan dipenuhi banyak algae dari bibir pantai. Dari substrat pantai
yang demikian secara logika akan ditemukan banyak hewan baik avertebrata atau
pun vertebrata. Selain itu di sana juga terdapat batu karang besar yang
digunakan sebagai habitat dari hewan avertebrata. Seperti Chiton sp yang kebanyakan menempel di batu karang tersebut.
2.
Hutan Wanagama
a.
Secara Geografis dan Astronomis
Secara geografis Hutan Wanagama terletak
di empat desa, yaitu Desa Kemuning, Ngleri, Gading maupun Banaran, Kecamatan
Patuk/Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasi Hutan Wanagama terletak
di empat desa di Kecamatan Patuk dan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Bila diukur
dari pusat Kota Yogyakarta, Hutan Wanagama berjarak sekitar 35 km ke arah
selatan.
Akses ke Hutan Wanagama dapat menggunakan
kendaraan umum dari terminal bus Giwangan Yogyakarta dengan mengambil jurusan
Wonosari. Dengan trayek ini, pengunjung turun di Desa Gading. Pada pertigaan
Desa Gading, ambil arah kanan untuk menuju ke Wanagama. Perjalanan dari Gading
ke Hutan Wanagama, dilakukan dengan berjalan kaki (kecuali membawa kendaraan
sendiri) karena kendaraan umum yang menuju ke lokasi ini belum ada. Bila
pengunjung ingin mencoba, di pertigaan Gading tersedia ojek yang siap mengantar
sampai tujuan.
Secara astronomis Hutan Wanagama sendiri
menurut koordinat GPS, yaitu pada -7° 50' 53.00", +110° 29' 0.18" .
b.
Sejarah (awal pembentukan Hutan
Wanagama)
Hutan Wanagama
merupakan sebuah kawasan hutan lindung seluas 600 hektar di wilayah Kabupaten
Gunungkidul. Tujuan utama dibangunnya kawasan Wanagama adalah untuk mencari
model cara menanggulangi kekritisan tanah di Gunungkidul. Di samping itu, hutan
ini juga difungsikan sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi
mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Pada awal
pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang gersang dan tandus. Nama Wanagama
berasal dari dua kata, yakni wana yang berarti alas atau hutan, dan gama yang
merupakan kependekkan dari Gadjah Mada. Hutan yang ikut serta berperan
menghijaukan Gunungkidul ini, mulai dirintis pada tahun 1964 oleh Prof. Oemi
Hani’in Suseno, salah satu akademisi kampus UGM. Dengan bermodal uang pribadi,
guru besar peraih anugerah Kalpataru tersebut, menanami berbagai pohon di Wanagama
yang pada saat itu hanya seluas 10 hektar. Mulanya, bersama seorang warga
setempat, Wagiran, Prof. Oemi menanam dan merawat beberapa Pohon Murbei (Morus
alba). Tanaman ini dipilih karena daunnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan
ulat sutera dan tidak mudah rontok.
Kemudian secara
bertahap masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program itu. Mereka diberi
pekerjaan untuk memetik daun murbei yang kemudian dibeli oleh pihak pengelola
hutan seharga 1 ringgit (Rp 2,50) per kg. Daun tersebut digunakan sebagai pakan
budidaya ulat sutera. Dari hasil penjualan kepompong itulah, modal pengembangan
diperoleh. Usaha tersebut membuahkan hasil dan mendapat perhatian dari
Direktorat Kehutanan, sebagai pemilik lahan. Lahan penghijauan pun diperluas
menjadi 79,9 hektar. Dari waktu ke waktu, target lahan penghijauan terus
diperluas dan kini luasnya mencapai 600 hektar yang terbagi dalam 9 petak.
Selain penanaman
Pohon Murbei, upaya penghijauan juga dilakukan dengan teori pembelukaran. Prof.
Oemi dan tim juga melakukan upaya penanaman jenis tanaman pionir sebanyak
mungkin, yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro.
Tanaman pionir yang didominasi jenis legum tersebut dipahami memiliki kemampuan
mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Di samping itu,
kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari
pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah
kurun waktu 10-15 tahun.
Selain itu, ada
sekitar 30 jenis burung yang menghuni Wanagama. Burung-burung ini menjadi
perhatian tersendiri ketika menjadi mediator bagi penyebaran tunas-tunas
cendana. Selain Pohon Murbei, Pohon Cendana juga dipilih dalam program
penghijauan Wanagama. Namun, berhubung kondisi tanah di Kabupaten Gunungkidul
kurang mendukung, pohon-pohon cendana yang ditanam banyak yang mati. Menurut
penuturan pengelola, yang tersisa waktu itu hanya sekitar 10 pohon. Beberapa
tahun kemudian, Prof. Oemi dikejutkan dengan munculnya tunas-tunas cendana baru
yang tersebar tak merata. Ketika diteliti, semua itu hasil kerja burung-burung
yang memakan biji-biji cendana dan membuangnya sembarangan ketika buang
kotoran.
Hutan Wanagama,
sebuah kawasan yang merupakan cerminan kepedulian kepada alam, potensi wisata,
dan penunjang ekonomi masyarakat sekitar. Penghijauan dengan konsep
pembelukaran di Hutan Wanagama ini telah diadopsi dan menjadi rujukan penghijauan
bagi daerah tandus lainnya dan juga sebagai hutan pendidikan. Fakultas
Kehutanan UGM sebagai pengelola Hutan Wanagama, saat ini sedang menata ulang
kawasan hutan seluas 600 hektar ini agar lebih menarik sebagai obyek wisata.
c. Kondisi
Hutan Wanagama
Hutan Wanagama
termasuk hutan heterogen karena di sana terdapat banyak macam tanaman baik itu
berhabitus herba, semak, perdu, dan pohon. Kondisi tanah di Wanagama mengandung
banyak humus, karena di sana terdapat banyak daun yang rontok yang dapat
menambah humus pada tanah.
Permukaan Hutan
Wanagama berbatu kapur dengan banyak lumut yang menempel di permukaan batuan
tersebut. Kanopi yang ditimbulkan oleh rindangnya pohon-pohon besar di Wanagama
membuat udara sejuk, sehingga dari keadaan yang demikian banyak spesies yang
tinggal dan berkembang biak di daerah Hutan Wanagama tersebut. Hasilnya banyak
ditemukan keanekaragaman hewan khususnya yang tergolng Invertebrata.
B. Deskripsi Hewan Invertebrata
Hewan Invertebrata adalah hewan yang
tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan
anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang
punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih
sederhana dibandingkan hewan vertebrata. Setiap jasad hidup di laut atau yang
hidup dimana saja atau setiap benda yang ada, setiap manusia mulai
mengembangkan bahasa, setiap hewan laut maupun tumbuh-tumbuhan mempunyai nama
ilmiah yang berbeda, nama ilmiah yang sama berlaku bagi semua jasad hidup yang
mempunyai sejumlah sifat yang sama. Salah satu upaya untuk memberikan nama
hewan dan mengelompokkan hewan dilakukan oleh Aristotles (384-322 SM),
yakni seorang filosof dan ilmuwan yunani, ia mengelompokkan hewan-hewan kedalam
kelompok yang mempunyai darah dan tidak mempunyai darah, sayangnya dia tidak
mengenal darah jika warnanya tidak merah, sedangkan banyak tipe darah yang
tidak mempunyai pigmen warna merah atau berwarna bening. Baru pada abad ke 18
pengelompokan yang tepat dilakukan dengan menggunakan sistem penamaan yang
dirancang oleh Caroleus Linnaeus (1707-1778), seorang naturalis Swedia sistem
ini diperbaiki ketika Lamarck (1774-1829), nama lengkapnya Jean Baptise Piere
Antoine Monet Lamarck, seorang naturalis perancis dan mulai membeda-bedakan
bentuk-bentuk kehidupan menurut rancangan dasar dari organisasi jaringan dalam
tubuh mereka, prinsip ini mulai suatu sistem penentu atau pembedaan satu tipe
dari tipe yang lain sampai sekarang masih digunakan. (Romimohtarto, 2007).
Pada dasarnya
jasad hidup yang mempunyai anatomi dean fisiologi yang serupa ditempatkan dalam
satu kelompok kemudian tipe-tipe dalam kelompok yang mempunyai sifat yang sama
ditempatkan dalam satu sub (anak)-kelompok dan seterusnya sampai kita mempunyai
anak kelompok terakhir yang dapat dibedakan atas dasar sifat yang khas. Tingkat
anak-kelompok yang terkecil ini dinamakan jenis (spesiaes). Jenis pada umumnya
adalah sebuah kelompok atau populasi yang mampu melakukan perkembang biakan
antar mereka. pada beberapa
jenis, sifat –sifat yang khas yang lebih khusus lagi membagi-bagi jenis dalam
anak-jenis (subspecies) atau ras (race), tetapi pada umumnya pembagian jasad
hidup terkecil adalah jenis, pengelompokan diatas jenis adalah marga (genus).
Marga ditulis dengan awalan huruf besar dan digaris bawahi atau dicetak miring.
Nama jenis tidak didahului huruf besar tetapi juga digaris bawahi atau dicetak
miring. Contohnya Cheilinius undulates (ikan Napoleon). Cheilinius nama marga
dan undulates nama jenis, sistem ini pada prinsipnya sederhana tetapi menjadi
rumit karena adanya pemberi benda yang diberi nama menurut ketentuan-ketentuan
lain yang berlaku, ilmu tentang penamaan ini disebut Nomenklatur dan merupakan
bagian dari taksonomi yaitu ilmu tentang klasifikasi dan identifikasi.
(Romimohtarto, 2007).
Hewan dan
tumbuhan baik di darat, air tawar, air laut dapat dibedakan satu dengan yang
lainnya menurut klasifikasi ilmiah, mereka dinamai dan di kelompok-kelompokan
menurut klasifikasi tersebut. Apa yang dinamakan biological nomenclature (
sistem kalsifikasi biologi) bermula pada abad ke- 18 ketika Linneaeus
menggunakan cara untuk mengklasifikasikan semua biota dan menjadi terkenal
dengan nama sistem nomenklatur Linneaus, sistem ini berdasarkan pada kesamaan morfologi
dengan urutan kategori menurut hirarki. Mulai dari kelompok besar sampai kepada
yang terkecil. ( Romimohtarto, 2007).
Filum Porifera
(Latin: porus=pori, fer=membawa), tubuhnya berpori,
dipoblastik, simetri radial, tersusun atas sel-sel yang bekerja secara mandiri
(belum ada koordinasi antar sel yang satu dengan sel lainnya). Fase dewasa
bersifat sesil (menetap pada suatu tempat tanpa mengadakan perpindahan), dan
berkoloni. Habitat umumnya air laut dan ada yang di air tawar (famili
spongilidae). Bentuk tubuh : kipas. Warna tubuh : kuning, kelau, merah, biru,
hitam, putih keruh, coklat, jingga ( sering berubah tergantung tempat sinar).
Mempunyai rongga sentral (spongocoel). Merupakan hewan mutiseluler yang paling
sederhana. Porifra hidup secara heterotrof. Mkanannya adalah bakteri dan
plankton. Makananm yag masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga ;porifera
tersebut juga sebagai pemakan cairan.
Tubuhnya diploblastik, tersusun
atas:
1. Lapisan
luar (epidermis=epithelium dermal). Terdiri atas pinakosit=pinako-derma
(berbentuk sel-sel polygonal yang mertapat)
2. Lapisan
dalam, terdiri atas jajaran sel berleher (koanosit) sel koanosit berfungsi
sebagai organ respirasi mengatur pergerakan air. Diantara lapisan luar dan
lapisan dalam terdapat mesophyl (mesoglea). Di dalam mesoglea terdapat
organel-organel, yaitu:
Gelatin
protein matrik, amubosit,arkeosit,porosit/miosit, skleroblast dan spikula.
Porifera
bersifat holozoik dan sporozoik. Partikel-partikel makanan menempel pada kolar.
Mikrovil-mikrovil diolah di dalam vakuola makanan dengan bantuan enzym
pencernaan (karbohidrase, protase dan lipase). Vakuola tersebut kemudian
melakukan gerakan siklosis . setelah itu zat makanan akan diedarkan ke sel-sel
tubuh secara difusi dan osmosis oleh amubosit. Alat pernafasan terdiri atas
sel-sel pinakosit (bagian luar) dan sel koanosit (bagian dalam), zat sisa
metabolisme diedarkan dari internal tubuhnya oleh amubosit. Porifera ada yang
bersifat monosious (hermafrodit) dan ada juga yang bersifat diosious.
Berkembangbiak secara seksual dan aseksual.(Rusyana,2011)
Coelenterata
adalah hewan yang tidak mempunyai rongga sebenarnya (acoelomata), yang dimiliki
sebuah rongga sentral yang disebut coelenteron. Filum Coelenterata terdiri atas
empat kelas. Tiga kelas mempunyai knidoblast, dimasukkan ke dalam kelompok
Cnidaria (terdiri dari kelas hydrozoa, scypozoa, dan kelas anthozoa), satu
kelas lagi tidak memiliki knidoblast dan disebut acnidaria (kelas ctenophora). Struktur
tubuh diploblastik, tidak mempunyai kepala, anus, alat peredaran darah, alat
ekskresi, dan alat respirasi. Punya mulut yang dikelilingi tentakel. Bersel
banyak, simetri radial. Belum mempunyai pusat susunan saraf, sistem pencernaan
makanandilakukan secara intrasel dan ekstrasel. Hidupnya bersifat polymorphysme
atau metagenesis, terdiri atas bentuk polip dan medusa (Rusyana,2011).
Filum
Platyhelminthes
bersifat triploblastik,, tetapi tidak bersoelom. Ruang digesti berupa ruang gastrovaskuler
yang tidak lengkap. Bentuk tubuh simetrio bilateral, , namun memiliki sistem
ekstretorius, saraf, dan reproduksi yang mantap. Seup parasitis pada manusia
dan hewan. Cacing-cacing planaria hidup dalam air tawar. Cacing hati dan cacing
pita bersiklus hidup majemuk dan menyangkut beberapa inang sementara. Adapun
kelasnya yaitu Turbellaria, Trematoda, dan Cestoda. (Brotowidjoyo, 1994).
Filum
Nemathelminthes
tubuhnya berbentuk gilig atau seperti
benang. Sebagian besar hidup mandiri, diantaranya hidup parasit dalam tanah dan
merusak akar tanaman, atau dalam saluran pencernaan vertebrata, atau dalam
jaringan tubuh lainnya. Cacing ini permukaan tubuhnya tertutup kutikula, dan
biasanya kedua ujung tubuhnya meruncing. Pseudosoel menyerupai selom yang sebenarnya
, tetapi dilapisi hanya dengan mesoderm di sisi luar.Salah satu kelasnya yaitu
Nematoda, contohnya yaitu Ascaris lumbricoides. (Brotowidjoyo, 1994).
Filum Annelida merupakan
jenis cacing yang bersegmen, artinya tubuhnya terdiri atas satuan yang
berulang-ulang. Meskipun beberapa struktur seperti saluran pencernaan terdapat
di sepanjang tubuh cacing tersebut, tetapi yang lain seperti organ ekskresi
terulang pada segmen demi segmen. Dari luar segmentasi ini tampak
seperti rangkaian cincin. Ciri-ciri khas lain annelida adalah simetri
bilateral. Selain itu ciri pada annelida yang tidak terdapat pada hewan lain
yang lebih primitif adalah rongga tubuh yang besar berisi cairan. Rongga ini
disebut selom, seluruhnya dilapisi mesoderm. Pada filum
annelida telah ditemukan 8900 spesies yang dibagi menjadi tiga kelas. Kelas
yang terbesar adalah Polychaeta yang terdiri atas cacing palolo. Kelas kedua
adalah Oligochaeta yang etrmasuk di dalamnya adalah cacing tanah dan beberapa
cacing air tawar. Kelas ketiga, Hirudinea terdiri atas lintah. (Kimball, 1983)
Filum Mollusca
atau hewan lunak
merupakan hewan yang betubuh lunak, tidak bersegmen (kecuali satu), banyak
diantaranya dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur. Sebagian
besar mollusca hidup di laut dan beberapa di darat. Filum ini terbagi menjadi
beberapa kelas dan anak kelas, yaitu:
1.
Kelas Bivalvia :
memiliki dua cangkang yang menyelubungi tubuhnya;
2.
Kelas Gastropoda
: meliputi keluarga keong dan kerabatnya siput telanjang. Bergerak dengan kaki
perut;
3.
Kelas Chepalopoda:
bergerak dengan mendorong kepalanya menggunakan kaki (alat gerak) yang
termodifikasi menjadi tentakel yang biasanya memiliki alat penghisap; (Castro, 2005)
4.
Kelas Schapoda:
"siput gigi" yang merupakan kelas kecil mollusca yang menghabiskan
hidupnya terbenam di pasir;
5.
Kelas Polyplacopora:
cangkangnya terdiri atas beberapa (biasanya delapan) lempeng terpisah yang
timpang tidih. Contoh organismenya adalah Chiton sp;
6.
kelas Monoplacopora:
secara internal bersegmen yang sama seperti annelida, contohnya adalah Neopilina
sp.(Kimball, 2005).
Filum
Echinodermata merupakan hewan yang hidup di laut, kebanyakan
bersifat simetri radial. Tubuhnya dengan 5 buah antimer yang tersusun radial,
dengan mulut di tengah-tengahnya. Pada kulit terdapat papan-papan kapur dan
sebagian besar mempunyai duri-duri dermal. Hewan-hewan ini berselom. Sistem
digesti lengkap, walaupun anus mungkin tidak berfungsi. Bergerak lambat dengan
telapak tabung. Gerakannya diatur oleh sistem tekanan hidroststis yang disebut
sisten vascular air. Pada hewan ini tidak terdapat sistem respirasi dan eksresi
secara khusus. Fungsi eksresi dilakukan oleh penonjolan-penonjolan kulit yang
disebut brank atau papula yang terdapat diantara papan-papan kapur pada kulit.
Kelamin terpisah dan fertilisasi terjadi dalam air. Larvanya bersimetri
bilateral. (Brotowidjoyo, 1994)
Filum
Arthropoda merupakan
hewan yang kakinya bersegmen-segmen, tubuhnya simetris bilateral yang juga
biasanya terdiri dari sederetan segmen. Pada setiap segmen atau beberapa segmen
terdapat sepasang appendage atau embelan (bagian tubuh yang menonjol dan
mempunyai ujung bebas misalnya anggota tubuh). Terdapat rangka luar dari kitin
yang fleksibel untuk memudahkan pergerakan bagian segmen tubuhnya. Sistem
syaraf mirip dengan sistem syaraf yang dimiliki Annelida. Selain sistem syaraf
banyak hal-hal lain yang mempunyai sifat-sifat sama dengan Annelida, misalnya
materi anggota gerak, alat ekskresi dan sebagainya sehingga dianggap filum ini
berkerabat dengan filum Annelida. Umumnya, Arthropoda memiliki mata majemuk,
suatu tipe organ penglihatan yang berbeda dengan invertebrata atau avertebrata
lainnya. Kelas pada filum ini yaitu Crustacea, Onychophora, Arachnoldea,
Ohilopoda, Diplopoda, dan Insecta.
Tetapi terkadang kelas Chilopoda dan Diplopoda dimasukkan kedalam satu
kelas yaitu Myriapoda. (Rusyana, 2011).
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Metode Penelitian
Pada praktikum kali ini
metode penelitian atau pengamatan menggunakan sistem plot 4x4 m2.
Dimana lokasi yang dijadikan objek penilitian dibatasi dengan tali rafiah yang
sebelumnya diukur 4 meteran, setelah itu tali rafiah tadi dikaitkan dengan
patok yang terbuat dari bambu sehingga ketika direntangkan tali rafiah tersebut
dapat membentuk kotakan persegi dan patok tadi ditancapkan di permukaan tanah.
Setelah kotakan tadi
terbentuk, pengamatan terhadap objek (avertebrata) dapat dilakukan dengan
mengamati daerah yang sudah dibatasi dengan tali rafiah tadi. Kemudian objek
yang dicari dalam golongan avertebrata dicatat dan difoto.
B. Tempat dan Waktu
Obervasi dilakukan pada hari Minggu, tanggal 09 Desember 2012 yang bertempat di Pantai Sundak (07.00)
dan Hutan Wanagama (12.45-14.30) daerah Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.
C. Alat dan Bahan
Dalam praktikum kali ini
alat yang digunakan adalah sarung tangan, pinset, ember, gunting, rafia,
jaring, patok, toples, dan kamera. Adapun bahan yang digunakan adalah formalin
dan alkohol.
BAB
IV
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi
dan Klasifikasi
1. Phylum
Coelenterata
a.
Meandrina sp
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Coelenterata
Class :
Anthozoa
Ordo :
Madreporaria
Famili :
Meandrinidae
Genus :
Meandrina
Spesies :
Meandrina sp
(Linnaeus, 1758).
Deskripsi:
Sebuah
karang bentuknya seperti otak, membentuk belahan yang dapat mencapai 1 m diameternya.
Beberapa koloni kolumnar, dengan ketinggian 3 atau 4 kali lebar mereka. Septum
besar, tebal, biasanya ukuran sama. Warna biasanya krem, kehijauan dan coklat. Tentacles dapat terlihat
di siang hari (P.S
Verma, 2002).
a.
Favites sp
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Kelas : Anthozoa
Ordo : Sceleretina
Family :
Faviidae
Genus :
Favites
Spesies : Favites sp
(Linnaeus, 1758)
Deskripsi :
Mempunyai ekskeleton kompak badan berbahan
kapur. Hidupnya berkoloni, biasanya terdapat dalam air laut hangat, tapi tidak
menutup kemungkinan hidup di daerah
pinggir pantai atau laut (P.S Verma, 2002).
1. Phylum Annelida
a.
Pheretima sp (Cacing Tanah)
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Annelida
Class :
Clitellata
Ordo : Haplotaxida
Famili :
Megascolecidae
Genus : Pheretima
Spesies : Pheretima sp
Deskripsi :
Cacing tanah
bertubuh tanpa kerangka, diselaputi oleh epidermis berupa kutikula (kulit kaku)
berpigmen tipis dan seta, kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut),
bersifat hemaphrodit (berkelamin ganda). Apabila dewasa, bagian
epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelium (tabung
peranakan atau rahim). Tubuh dibedakan atas bagian anterior dan posterior.
Pada bagian anteriornya terdapat mulut, prostomium dan beberapa segmen yang
agak menebal membentuk klitelium, Cacing tanah umumnya memakan serasah
daun (Edwards dan Lofty, 1977; Hanafiah, dkk. 2003). Cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang
mengandung coelomycetes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan sistem
vaskuler tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior,
kotoran dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia.
Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kutikuler (Hanafiah, dkk.2003).
b.
Nereis
virens
Klasifikasi
:
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Annelida
Kelas :
Polychaeta
Ordo :
Eurentia
Famili :
Nereidae
Genus :
Nereis
Spesies : Nereis virens
(Sars, 1835)
Deskripsi :
Tubuh memanjang, dapat lebih dari
30 cm, silindris dan bersegmen. Hidup dalam pasir atau menggali di bebatuan di
daerah pasang surut, aktif pada malam hari. Tiap segmen memiliki porapodium.
Kepala jelas dengan paring berahang dikelilingi peristomium dan dan beratap
yang disebut prostomium (Solomon, 1993).
2. Phylum Mollusca
a. Anadara sp.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Molussca
Class :
Bivalvia
Ordo :
Arcoida
Family :
Arcidae
Genus :
Anadara
Species :
Anadara sp
www.eol.org
Deskripsi
:
Cangkang terdiri dari dua bagian,
kedua cangkang tersebut disatukan oleh suatu sendi elastis yang disebut hinge (
terletak di permukaan dorsal ). Bagian dari cangkang yang membesar atau
menggelembung dekat sendi disebut umbo (bagian cangkang yang umurnya paling tua). Disekitar umbo
terdapat garis konsentris yang menunjukkan garis interval pertumbuhan. Sel
epithel bagian luar dari mantel menghasilkan zat pembuat cangkang. Cangkang itu
sendiri terdiri dari tiga lapisan yaitu periostrakum ( lapisan tipis paling
luar ), prismatik ( lapisan bagian tengah yang terbuat dari kristal-kristal
kapur), dan nakreas (bagian dalam yang terbuat dari kristal-kristal kalsium
karbonat dan mengeluarkan bermacam-macam warna jika terkena cahaya). Terdapat
ligamen sebagai engsel membuka menutup cangkang. Tumbuh sampai mencapai
kira-kira 2,5 inchi. Warna cangkang putih hingga abu-abu dengan alur yang
jelas. Terdapat 26-28 alur-alur radial yang melintang. Cangkang ditutupi
periostracum abu-abu tipis. Arah sutur vertikal. Cangkang terdiri dari tiga
lapisan yaitu periostrakum, prismatik, dan nakreas. Habitat di pantai. Bergerak
dengan kaki otot yang berbentuk seperti kapak (Rusyana. 2011).
b.
Conus
sp
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Filum :
Molussca
Class :
Gastropoda
Ordo :
Sorbeoconca
Sub ordo : Neogastropoda
Family :
Conidae
Genus :
Conus
Species : Conus sp www.eol.org
Deskripsi
:
Habitat di laut. Arah alur putar
cangkang dexter. Conus memilki cangkang dengan panjang 10-13 cm. Umumnya
memiliki sisi yang lurus dengan spire yang pendek dan body whorl yang
meruncing. Memiliki aperture yang dalam atau membuka pada body whorl pertama.
Hewan ini memangsa cacing dan Molusca lain atau terkadang ikan kecil. Sebagian
besar spesies indigenous di wilayah basin Indo-Pasific (Rusyana. 2011).
c.
Anadonta
sp
Klasifikasi
:
Kingdom : Animalia
Filum
: Molussca
Class
: Bivalvia
Ordo
: Unionoida
Super family : Unionidae
Family : Anodontinae
Genus : Anodonta
Species : Anodonta sp
www.eol.org
Deskripsi :
Cangkang terdiri dari dua bagian,
kedua cangkang tersebut disatukan oleh suatu sendi elastis yang disebut hinge (
terletak di permukaan dorsal ). Bagian dari cangkang yang membesar atau menggelembung
dekat sendi disebut umbo (bagian cangkang
yang umurnya paling tua). Disekitar umbo terdapat garis konsentris yang
menunjukkan garis interval pertumbuhan. Sel epithel bagian luar dari mantel
menghasilkan zat pembuat cangkang. Cangkang itu sendiri terdiri dari tiga
lapisan yaitu periostrakum ( lapisan tipis paling luar ), prismatik ( lapisan
bagian tengah yang terbuat dari kristal-kristal kapur), dan nakreas (bagian
dalam yang terbuat dari kristal-kristal kalsium karbonat dan mengeluarkan bermacam-macam
warna jika terkena cahaya). Arah sutur horizontal. Terdapat ligamen sebagai
engsel membuka menutup cangkang ( Rusyana. 2011.)
d.
Achatina fulica ( Bekicot )
Achatina fulica ( Bekicot )
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Stylommatophora
Famili : Achatinidae
Genus : Achatina
Spesies : Achatina fulica
(www.texasinvasives.org)
Deskripsi
:
Achatina fulica mempunyai
cangkang yang tidak begitu mencolok dan bentuk cangkang cenderung meruncing (Santoso,1989). Tidak memiliki
operkulum, memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian ventral tubuhnya, serta bergerak lambat
menggunakan kakinya. Bagian-bagian morfologi bekicot meliputi tentakel dorsal,
mata, kepala, tentakel, kaki perut, sutura, apex dan ada yang mempunyai garis
pertumbuhan pada cangkangnya (Oemarjati,
1991). Bekicot merupakan hewan malam karena semua kegiatannya dilakukan
pada malam hari, kecuali bila mereka berada pada tempat gelap dan teduh.
Biasanya pada siang hari bekicot selalu menyembunyikan dirinya di dalam
cangkangnya untuk istirahat atau tidur (Asa, 1989).
e.
Cypraea sp
Cypraea sp
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Mollusca
Kelas :
Gastropoda
Ordo :
Meogastropoda
Famili :
Cypraeidae
Genus :
Cypraea
Spesies :
Cypraea sp (Linnaeus, 1758)
Deskripsi :
Hidup di laut dengan permukaan cangkang yang mengkilap dan halus,
kecuali beberapa spesies dan memiliki warna yang banyak. Panjang kira-kira
5-15. Bentuk cangkang seperti telur dengan aparture memenjang dan sempit.
Memiliki gigi radula (Sugiarti, 2005).
f. Chiton sp.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Classis : Polyplacophora
Ordo : Chitonida
Family : Chitonidae
Genus : Chiton
Species : Chiton sp
Genus : Chiton
Species : Chiton sp
Deskripsi :
Hewan ini merupakan anggota
dari kelas Polyplacophora karena mempunyai banyak pelat (kepingan). Cangkangnya berbentuk lempengan (
keping ) terpisah yang berjumlah 7 - 8 buah, yang umumnya tersusun secara
tumpang tindih seperti genting dan pada tepinya dikelilingi sabuk. Bentuk
tubuhnya oval, cangkangnya berwarna hitam atau coklat. Tekstur cangkangnya agak
keras, habitatnya di perairan laut ( Rusyana. 2011.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar